XDXD

Laman

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

BASA-BASI HATI

Oleh : Dedi Fura

mungkin bukan dia seperti intan,
akupun begitu,
tak berdaya,
dan fikiran masih tak menyatu.

Hanya kau yang tak ada,
lembayung yang indah,
bukan wajahmu lagi bersarang.

bukan pula kenangan yang membenak
bukan pula jauhnya hari dengan kepastian,

kita yang memanja,
yang tak pernah tahu kapan keadaan terjadi seperti tangis,
mungkin kita yang angkuh,
tapi Asma-Nya yang selalu ada,

dan bukan pula gurauan,
disatu takdir,
sungguh yang terdalam,

sesungguhnya rahmat untuk kita,
telah tertitip di hulu pagi,
untuk segala yang terjadi,
dalam setiap Do'a yang berkata
si jingga yang bernyanyi pun menuntun lalu kesedihan kita.

BUKAN UNTUK KITA

Oleh : Dedi Fura

Dinginnya mulut yang terkunci,
Beradunya hari yang termurung,
bukan alasan disaat kita menyatu,
meski terjatuh.

tapi yang terbaru,
dan yang terlama yang pasti mengerti,
setiap detik arti yang berbeda,
menyampaikan rasa yang bersatu.

tapi,
mungkin bukan untuk kisah kita,
dan bukan pula santapan Dewata.

semakin peka,
kita semakin manis,
selain hari,
tak ada yang berasa,
ataupun melompat,
masih tetap berlasan manja.

begitulah kita,
bukan sehati yang berselimut,
hanya keadaan terampas,
dan berduri mati tak beralas.

TAK SESUCI INI

Oleh : Dedi Fura


Mungkin,
bukan alasan yang sebenarnya,
ketika mentari terlelap,
bunga mimpi tak sekedar mati,

aku tak  sehedonis kemalangan,
taak separuh kebodohan,
hanya saja,
separuh dari iman yang terdampar,
hanya harapan buruk yang menanti malam.

telah berulang,
dan mungkin hampir habis,
telah terjadi,
namun masih bersama,

selama tertekan jiwa yang melapang,
selama tertutup awan yang menipis,
takkan lama terasa,
mungkin saat ku tak ada,

hanya sekedar surat kecil yang ku titipkan untukmu disuara kicau angin,
saat itu,
aku bukan hal baru lagi,
semoga dengan tak ada lagi,
diamnya mulut hari,
takkan gantikan sesalku yang hampir terdiam

BAWAAN SELAMANYA















 
Oleh : Dedi Fura

Memang begitu,
Jika sudah acuh,
Mungkin diam tak mau tahu.
ketika mulai membisu,
orang lebih suka menatap manis,
masih saja membeku.

Kapan tateringat kenangan batin,
Tak semudah harapan hati,
Da tak sebening embun ketika terlahir.
Namun hanya sekedar bualan lama,
yang hitam disaat memutih
dan tergenang disaat terhanyut.


Inilah sebab kau pergi,
tak tahu,
dan tak mau tahu,
yang terasing saat ini,
tapi wajahmu tak bisa menoleh.
tapi kakimu tak bisa melangkah pula.
Ku tahu sebab lama itu,
dan aku tak tahu kapan Malaikat tak  bersayap lagi,
janganlah diam,
dan jangan terapung,

sebab,
hidup yang lain,
telah menanti diriku.

SESAL LAMA

Oleh : Dedi Fura

Semesta tak berkataa sedikitpun
hanya berontak sedikit kaarena kesal
terlihat kekesalannya lewat santapan kilat
hujan pun jadi saksi setara hati
masih dalam jejak lama yang terhenti.

kini tak lagi sebagai penguasa hati
karena telah melelah untuk berbicara
sedalam penyesalah yang kini membru
Semuanya datang tampak bersama.

semestinya,
meski terjaga utuh,
tapi setidaknya luka itu tak berdarah
hanya terungkap lewat perasaan dan harapan
dan tergores pena putih,
yang tak jauh dari pandangan lamamu.

YANG TERAKHIR












 

Oleh : Dedi Fura

yang telah lamaa berlalu,
yang kini hidup di lautan yang tak tahu,
tak seadil sang Pencifta,
dan memang takkan.

tak setentram dusun yang merimbun dengan damai,
takkan jua seperti yaang telah kalah bersarang.
semua yang terbaik dan terakhir,
akan tenang meski pergi,

dan akan terjadiketika pelangimembias di muka pagi,
sebab, dengan tentram damai menemaninya,
sebab dengan kecepatan perasaannya dia meluka.
hingga kita melompat pagar hidup,
dan merana di bukit hati bernuansa fajar.

KARENA KITA














Oleh :Dedi Fura

meski tak sama,
tapi tetap sehati,
tetaap tejaga dan tetap tak bertulang.

jikananti kita tak hidup,
sadarkan semua sangkaan fana di ujung gelisah,
jika memaang jalan haruis membaik, semoga kita yakin dan tahu kapan kita terbuka lagi.


kita yang tahu,
kita yang hidup,
tak searti pun kita jalani dengan ketenangan,
tak selangkahpun kita bertahan sama sesama.
sempurna jika kita terlaraang sempurna jika kita mendua,
tapi mendua di dua antara,
keraguaan dan ketenangan.

MENYERAH UNTUK HIDUP


















Oleh : Dedi Fura

Diamlah disana, seakan tak tahu kenapa kita membisu,
tak ada alasan jelas untuk kita berlabuh,
dan tak ada alasan yang tepat untuk kita terjatuh,

semoga setelahsekian waktu,
kau mengerti bahwa aku kan teramat,
bahwa aku kan menyatu,
dan bahwa harapan yang terlampiaskan dengan janji adalah milik kita.

aku tak sadar,
dan kau tak melihat,
aku terinjak,
dan kaupun melemah,

kuharap,
dengan harapan tak jelas,
kurajut,
sehelaikain yang terurai,
kubuka dengan segenggam hati tak jenuh dan tak jarang.

datanglah meski ditekan ombak,
tapi samudra akan membaik,jika kita tetap tahu,
arah mana yaang tak baik,
dan arah mana yang baik,
sebab,
ingatlah ketika tenggelam nanti kita harus tahu,
aku selalu menanti keraguanmu.

KEABADIAN DI UJUNG HARAPAN






















Oleh : Dedi Fura

melangkah menuju utara,
setibanya sejenak,
datang pula kita diseberang selatan.

kita tak pernah tahu,
dulu yang masih terbenam,
adalah sekian dari banyaknya santunan untuk kita,

maka,ketika benar-benar tak ada kau akan berhenti di pedalaman
dan kau,
tersesat hingga tak ada lagi.

akan lebih tahu,
jika suatu haru dan tertawa,
selamanya akan tersenyum,
dan sekurangnya kau akan terluka,
saat itu,
jauhilah aku kerena,
jika setetes harapannya saja kau menjadi sia,
dia akan terbang dengan rasa yang hilang.

YANG TAK PERNAH TERBUKA


















Oleh : Dedi Fura

kini,
kau menyesal.
setelah berlalu-lalang,
dan setelah aku menduakan alam,
dan setelah aku mencium bumi,
kau tak pernah ada untuk berteman.

sekarang,
setelah kita mulai terjatuh,
kau benar-benar berbuat sesuka alasan.

andaipun kau teramat kuaat,
tapi tetap aaku selemah sungai yang terputus,
akankah aku tenggelam,
kau pun hendak berenang,
aku tahu,
dan aku mengerti,
tapi,
aku adalah dia,
yang bukan tertuang dalam tulisan pena,
dan bukan pula tertuang dalam tulisan raut,
setidaknya meski pandangan lain,
disana kaau masih menantiku menyapa senja.

JENDELA HATI



















Oleh : Dedi Fura

Mulai terbuka,
dengan sebagian jati yang tersisa,
tersendu,
seakan tak ada yang hidup.

mulai terlepas,
dari penantian lama yang berlawanan.
daan mulai terlekang oleh segala kemantapan
dalam doa'anya.

Tuhan selalu ada,

itulah seiring tujuan sang adam jika terluka,
mungkin gagu ketika nemenetes,
seraut putih,selalu tersandar,
dengan penuh pengertian kita terasing,
ketepian, dan kejauhan.

tak seperti yang lama yang telah berlalu,
kadang terasa dalam pendangan,
kadang pula terasa dalam masa yang sulit,bagi sebagian kita,
tapi itulah hidup,
tah tahu batasan yang klasik,
meski tak sebagus sekarang,
sebab,
dengan menyandarkan bahwa,
kita mulai terganti,
sebab,
dengan melambaikan harapan jauh,
kita dapat tertawa.

LIDAH TAK BERTULANG


















Oleh : Dedi Fura

untuk yang terluka dulu.

selalu begitu,
dengan logat manis,
dia berthan,
dengan wajah beku dia terpaksa.
dengan sejumlah keraguan ajhirnya melangkah,

Harapan palsu,
ditengah abad silam memang seperti membudaya.
tapi kadang terungkap setiap perkataan pada ujungnya.
tak ada perhiasan berharga,
hanya sekedar santapan logika,
dan segenggam keraguan,
namun masih tertatih diam ternanti qalbu.

kini,
batinnya terluka,
untuk sekian hari yang menaburi permintaan hatinya,
tak terpaksa,
tapi memang tak ada.
sebab, yang terukir,
jauh di sekitar bualan saja,
dia tampak menyesal berjalan sendiri,
namun siapayang mau berkata,
jika takdir Tuhan benar-benar terjadi.

HANYA GURUAN SAJA






















Oleh : dedi Fura

Disamping waktu yang terteduh penyesalan karena takdir,
tergelantung di tengah derunya bumi,
yang terdam dari sejumlah hati terdiam.
dan dari sisi yang biru terletak keagungan baru.
mudah kita terapung,

di halaman senja yang termakan.
dan dari sekian hari yang terasing,
hebatnya kau masih tertahan,
lama pula kita berteman sekia, mata mulai memandang
karena kita yang tahu,
siapa berdaya di pents alam.


itu tentang kita,
tentang dongeng yang terucap,
setibanya terbawa mati hingga hari memangsa diri,
dan hebatnya  tak lekang kuasa harapan,
sebab yang tahu hanya kita yang bertuan.

KUASA ALAM






















Oleh : Dedi Fura

tak pernah ada yang seperti itu,
seperti halnya tumbuh sebagai kamil yang berwibawa.
tapi adakalanya,
susah terbangun dari mimpi,
adalah kenyataan yang tertunda.

kamudian dari sekian bentuk hati,
yang menjerit hanyalah gurauan.
dibuka kemudian terungkap,
memang begini adanya kita.
dan mengkin bagi kita,
dia hanya seraut sisa lama yang mengan dung harap.

kataku memang bisu,
tapi tak seperti pembisu di muka baru,
sebab yang terjadi ketika bertahan,
yang tertanam di jiwa awam,hanyalah tasbih untuk alam yang terbenam.

TANGAN SAHABAT


Oleh : Dedi Fura



Bertuhan sama,
Kelaakuan sepuja.
Semanis manis,
Dihulu senja.
Karena telah lama terdiam tapitak termenung.

Kucinta yang terlahir,
Terlalu hitam untuk di ungkap,
Terlampaui jera untuk did era.

Mungkin aku yang baru,
Tak menyapa tapi tak bertapa.
Mengharap tak banyak,
Dari mata yang melihat,
Hanya satu yang kupunya.

Terakhir adalah,
Dia terjatuh,
Tapi aku menyapaa,
Dia tak terucap
Ketikaa aku tahu tentangmu dan tentangnya.
Sebab meski tak terungkap itu, tak searti dengan manisnya gelagatmu
Ketika menoleh kearahku.

UNGKAPAN BUAT PERMPUAN INDONESIA












Oleh : Dedi Fura

Tak hanya sebatas teman,
Ketika mawar mulai mekar,
Dia tak sadar bahwa kumbang melihatnya dari kejauhan.
Akhirnya dia lupa,
Dan hanya wajah baru yang terdamping.

Karena,
Bukan karena tapi adalah,
Bukan pujian tapi untaian
Tapi yang datang dari kejauhan dan bisikan
Dan kini menemani setiap hati tunas Bangsa.

Tersenyum,
Tapi tak terdiam.
Terbuka,
Tapi tak sengaja,
Lambat laun manja memukau.
Tapi tarikannya indah seperti tak bersuara.

Juga saat sang imam terjatuh,
Dia berbisik sesuatu
Di dalam qalbu, dia terasing
Tapi tenang dalam pandangan.
Itulah gainya,
Dan bagiku, adalah sama.
Sebab setiap ketiadaan,
Adalah etika puji yang teramat,
Dan yang terbaik dari-Nya.

AKU YANG TERBUNUH















Oleh : Dedi Fura

Kupilih,
Kaki mana yang harus melangkah.
Ku cabik setiap kenangan, dan bukan kenangan.
Kucari detik yang bukan waktu.
Dan ku panggil dosa itu,
Agar kau hukum aku dengan dosamu.

Hanya,
Yang temaniku adalah keramahan,
Dulu,
Tapi entah kini telah melemah,

Dan bagaimanapun itu,
Adalah dosa terindah yang pernah kubuat dengan penyesalan,
Dan akupun perasa tak beratap,
Dan tak bernyali ketika kau panggil aku dengan hormat,
Sedikit lagi kita terjalin,

Asal hati yang terbuka,
Kita pasti tahu, apa aku dan aku yang bisa mengaku,
Dan engkau yang telah merubah  semuanya,
Hingga tangan Tuhan sentuh takdir kita. 




SECERAH HARAPAN DULU

Oleh : Dedi Fura

Kubaca seluruh pikiran dengan tangan hampa.
Kuraih sebelah tangan dengan mulut yang tergenggam.
Kemudian tak ada satupun yang menangis,
Hanya diseberanglautan,
Kulihat,
Ada sedikit penyesalan yang tak ku mengerti,
Pasti berbeda, tapi bernuansa.

Kuanggap lunas saat ku merintih,
Menangis tertawa,
Dn bertuan sedih saat dia tak ada.

Tapi, kiniterlihat lemah,
Daging yang mulai bertulang, bukanlah dia.
Itupun mungkin adalah aku yang tersesat,
Ataupun,
Aku yang benar-benar berbeda Karen hampa.

Karena dibalik ceriamu,
Kutanamkan sejerih payah keraguan.
Kau masih menangis dan terdiam,
Ku tak sedih karena ditanganmu masih tergenggam,
Uraian makna,
Malaikat tak bersayap.

ROMANTIKA BIRU


Oleh : Dedi Fura



Kala terbenam,

Seperti api yang tertidur karena beku.
Di sebelah pundak hijau yang merimbun tersandar satu buah insan,
Yang terbawa arus.

Kawan yang terselubung bangkai,
Hanya harapan kecil yang tersisa.
Kini,
Segenap alam tahu kapan dia kembali,
Kembali dari raut pilu yang terluka,
Kapanpun dia dating,
Akhirnya pasti pergi,

Karena saat dia mulai binasa,
Berpikirlah terlalu dalam.
Karena jika ada setetes kecurigan ditangan malaikat kecil,
Dia akan terpana  dan mulaai menguak hati,
Karena pulajika hampir terdiam,
Dia akan terjatuh dan tertawa.




JALAN BUNTU DI RAUT PAGI

Oleh : Dedi Fura

Di tengah riuh pilu sanggahan mata,
Sekejap berulang pandangan hati,
Seolah tiada beranjak pertarungan bahasa,
Tapi logatnya masih melaba rugi seusai waktu kita.

Sampai hati dia berucap,
Dan aku pun masih disini,
Termenung malu tiada terikat,
Dengan alam,
Dan dengan keinginan terdalam dari qalbu.

Mungkin berbeda dengan jiwa,
Jiwa tua,yang hampir rubuh
Terharap jiwa tertanam,
Kita bertemu di taman hati,
Juga di sekeliling ciuman pulau impian.

Setelah semua berawal dari manisnya tekad,
Kini,
Tak sekecil apapun bentangan harap,
diam tak tampak,
Namun dibalik putih yang menghantui,
Mungkin masih ada harapan lama yang enggan tertidur seperti batu.

HARAPAN KELAK


Oleh: Dedi Fura

Mereka yang berbicara,
Mereka yang hidup dari karaguan.
Tapi mereka yang terlahir sebagai insan baru,
Tak pernah tahu,
Dan tak mau tahu bagai sebatang teruntai serta termakan.

Kita tak sebodoh jati dia,
Kita manusia yang bertulang kecil,
Hanya hidup di saat bisu,
Yang hanya mati disaat mengukun tulisan di atas air.

Seperti itulah,
Dan beginilah.
Membimbing dia hinggap ke laut,
Yang jauh kedarat,
Juga kepedalaman.

Kini terlihat,
Sosok maut yang ramah,
Kini terbuka,
Tapi mungkin sekecil kebodohan,
Harapa itu tetap menjadi pantangan dalam keraguan,
Juga sebagai pujian dalam keramat seperti penyesalan.

Maka itu,
Itu terjual,
Buka karena uang,
Tapi berarti banyak jika menahan,
Juga berarti kecil jika terurai.


KARENA DIA

Oleh : Dedi Fura

Dia datang,
Kemudian aku melangkah,
Senjata tak bertulang masih jadi andalan hidup untuk sayangnya tercurah.
Dia hadir,
Kemudian berlari,
Seterusnya tak pernah berubah,
Memang inilah jalan terbaik dari-Nya,
Yang dengan penuh kesadaran,
Akhirnya tercipta pandangan yang terakhir.

Dia masih begitu,
Dan kini seakan terjadi lama di ujung harapan yang tak berbatu,
Mungkin,
Diamnya kita,
Seakan taak mengerti dengan langah dahulu yang dia tunjukkan.

Tak pernah terpikir,
Untuk menghindar dari masalah yang berujung tak hidup.
Mungkin,
Jika tak percaya,
Coba buka takdir lama yang telah dia perbuat,
Mungkin sebagai pengganti,
Jika dia menyesal nanti,
Turuti saja sifat baru dia,
Yang apabila hujan menyerangnya,
Dia akan lindungi tubuhnya,dengan kedua telapak tangan yang terbuka.
Mungkin baginya tak sia,
Seperti hatiku yang telah berpunya.

PANDANGAN LAIN


Oleh : Dedi Fura

Hanya sebatas roda yang ku kayuh,
Hanya sepatah pena yang terselip,
Di antara butiran hati,
Kita hidup bertahan semau jiwa.

Kelak hidup yang sebatang,
Membayangi kita seolah pandangan tidak berucap,
Tapi,
Maha melihat Tuhan dengan buah takdirnya
Akan tertanam melabihi batas rasa.

Kini,
Yang mati rasa biarlah serasa mati,
Karena jika tersenda,
Akan terhalang pintu kita seusai tidur,
Yang tanpa sempurna membaca batin dengan ucapan.

Maksud hati tetap menjelma
Disana tertuju bukti terakhir,
Seperti dosa kita rasakan,
Gunung melaju julang tertinggi,
Dari sekia harapan yang memapah kesadaran.


PERANGAI LAMA

Oleh : Dedi Fura

Kala bertahan,
Seperti hidup tak berpayung,
Kita coba banding sejak kapan masa lalu berteman kini,
Tapi suatu saat hanya akan menahan sesak kelak belajar.

Rumpun terseberang yang hampir merindang itu,
Seakan membulat kian searti.
Pandangan tertahan dipuncak batin,
Sepantasnya batin yang tersisih mulai membukit.

Boleh bertuah seakan manja,
Tapi seperjuangan takkan tahu mengapa tiada terkuak jika terlatih,
Itulah sisi akibat dari akibat,
Tiada yang tahu akan terucap,
Dan terucap hanya sebagai bukti dari panutan hati.

Tiba kembali ke pematangan,
Disana tercurah sepi yang meraung,
Setiap lambai pohon mengukir senyum
Senyum untuk seorang terlarang yang mengucap palsu.
Juga,
Jika melambat hanya sesepi pagi,
Tapi tiada terkalah jika madu mulai meracun.
Sangat disayangkan jika mereka
Bertahan hidup seperti tak bertuan.

SERAUT PUTIH TAK BERTUAN


Oleh : Dedi Fura

Bahasanya terlambat separuh baya.
Disaat disapa sejenak, mulanya bertabur perhatian,
Semalam,
Mungkin sekedar harapan bisu saja
Tapi jalannya tetap terukur rapi mendadak.

Batas itu menjadi utama dalam keadaan,
Sehingga api yang menyulut pun tak urung jua belai hiasan terasing di pundaknya
Hanya saja sebagian yang terluka bicara dengan pastinya
Tiada meragu dikala sempat.

Besarnya harapan kita tertanam dalam, sebuku hati.
Lincah menari kemudian berlaari
Hingga menangis di kecupan warna
Tapi masih saja dia tertawa.

Bagian hitam yang terlubangi menduri kuat
Tak terbayang ketibang alasan
Dari kebiasaan lama yang beradab,
Hingga sejauh hati terkuak, kini bertahan tanpa ada kuasa yang terlihat.
Bukan pula separuh baya hilang,
Tapi sebagai puntangan  disaat kita tertegun.

NUANSA PEMALAS

Oleh :Dedi Fura

Terlalu dini untuk mengukir waktu
Hanya sesaat berlari terdiam lama.
Kisah hidup seorang awam berakhir setengah hati dalam masa yang pilu.

Setelah semua terdampar,
Lelucon lama tak lagi melabuh ketepi hari,
Disaat kita terdiam dalam bentangan masa
Waktu pun seolah menjawab pertanyaan detik.

Dari sekian si jingga yang tertatih melambat laun,
Kini yang terpenting hanyalah bualan
Kadang terdiam selalu terdiam
Tak habis lamanya,
Waktu terlalu muda dalam sejarah.

Dibatas waktu yang menyatu,
Sosok hidup seperti bayangan senantiasa terbuka lebar
Ternyataa yang terakhir hanylah sisa
Mungkin itu hanyasekedar sisa yang membatin,
Sisa awal daa terakhir dari kebiasaan.

KERUDUNG IMAN

Oleh : Dedi Fura

Dia,
Melihat di balik lembutnya tasbih yang meminta
Kemudian,
Dia menmdengar serak basah pagi yang terkuak hati

Dengan setitik kekuatan bosan,
Dia meraaba dengan alas yang berselubung bibir siang.
Tapi baru kali ini hikmah tua bersarang dibenaknya
entah kapan bisikan serupa menjelma menjadi harapan baru.
mungkinkah ketika tiba dibelakang jurang baru dia tersadar
tapi pula Tuhan maha melihat Umat-Nya.

akhirnya, dengan sentuhan taqdir dia kembali kejalan-Nya,
juga dengan harapan baru kini mengarungi ilalang yaang merumput sehijau padi.
dalam ingatannya yang terseru hanya luka,
Tapi apapun itu

MELATI DI UJUNG LAJU

Oleh : Dedi Fura
Manja di hari sepi
Tertekan batin serasa membaru.
Kisah klasik itu kini membuat pandangan kita seantik curahan hati
Ketika kita jumpai,
retap saja taman tak secerah gerimis terakhir yang merindukan alam senja

tiba pun dia menangis,
dibalik senyuman sore hanya petuah laama menjejaki siksa yang terluka.
tapi seandainya membeku dalam kematangan hidup,
esoknya pun pasti tertinggal kenangan yang mulai meruncing.

bukan sekedar bunyi nyaring,
hanya sebelah hati pandangannya yang tersisa
kadang menyaut dalam keunikan hati,
tapi juga wajah alam selalu beri hikmah terbaik yang mendahuluinya.

dulunya,
putih lembaran lama jadi luka yang mendalam,
tapi setidaknya bagaikan enggan ditepi pasir yang kemudian ombak jawaban hatinya
hingga abad pun berkata perlahan: "seandainya aku jadi melati, rasa ini takkan tediam seperti mentari".

RINDU UNTUK KEMATIAN

Oleh : Dedi Fura

Ditengah windu pertama,
detik pilu mulai tertawa dengan penuh ketenangan
berganti dengan tautan langit yang menggurat hati
kemudian pergi seolah burung kecil bernyanyi diseberang hati.

 

dari sendu yaang pertama,
terlihat dengan jelas keaadaan batin mulai bertanya
kemudian dengan gagahnya selembut hitam
menatap pandangan demi pandangan.

kali tahun kedua,
nyawa sisa di perempatan abad mulai bicara.
aneh pula disaat terluka
di tangisan menjelang,azal menghilang.


kini, dengan jelas dan tegas dia berlari sekuat tangis,
kemudian membawa arti ke putihnya gusar pena teraih,
tidaklah alam berkata manis ketika enggan tenggelam dia berkata;
"Kini aku tahu,keadaan membisu dari senyumaan tersapu"

MUSIM YANG TERKUNCI

Oleh : Dedi Fura


ketika terjaga,
tubuh kecil mulai terlelap di pembaringan.
terlihat dengan jelas,
tubuh rerumputan hampir jenuh membeku tak jelas.

kini,
disela bintang yang diukir tangan Tuhan,
Malaikat tersenyum dengan pintarnya menanti bijak

Sekarang,
bunga yang terjatuh mulai mengembun di pagi buta
dengan sedikit pelukan senja,
sinar hati yang mendalam acuhkan batin dalam mimpi

semoga, ketika pelangi mulai terbenam,
ketika mentari menelan hujan
kebaikan bati selalu tersapu dengan hikmah yang terkunci dengan kematian.