Oleh : Dedi Fura
Ditengah windu pertama,
detik pilu mulai tertawa dengan penuh ketenangan
berganti dengan tautan langit yang menggurat hati
kemudian pergi seolah burung kecil bernyanyi diseberang hati.
dari sendu yaang pertama,
terlihat dengan jelas keaadaan batin mulai bertanya
kemudian dengan gagahnya selembut hitam
menatap pandangan demi pandangan.
kali tahun kedua,
nyawa sisa di perempatan abad mulai bicara.
aneh pula disaat terluka
di tangisan menjelang,azal menghilang.
kini, dengan jelas dan tegas dia berlari sekuat tangis,
kemudian membawa arti ke putihnya gusar pena teraih,
tidaklah alam berkata manis ketika enggan tenggelam dia berkata;
"Kini aku tahu,keadaan membisu dari senyumaan tersapu"






