Disamping waktu yang terteduh penyesalan karena takdir,
tergelantung di tengah derunya bumi,
yang terdam dari sejumlah hati terdiam.
dan dari sisi yang biru terletak keagungan baru.
mudah kita terapung,
di halaman senja yang termakan.
dan dari sekian hari yang terasing,
hebatnya kau masih tertahan,
lama pula kita berteman sekia, mata mulai memandang
karena kita yang tahu,
siapa berdaya di pents alam.
itu tentang kita,
tentang dongeng yang terucap,
setibanya terbawa mati hingga hari memangsa diri,
dan hebatnya tak lekang kuasa harapan,
sebab yang tahu hanya kita yang bertuan.







