mungkin bukan dia seperti intan,
akupun begitu,
tak berdaya,
dan fikiran masih tak menyatu.
Hanya kau yang tak ada,
lembayung yang indah,
bukan wajahmu lagi bersarang.
bukan pula kenangan yang membenak
bukan pula jauhnya hari dengan kepastian,
kita yang memanja,
yang tak pernah tahu kapan keadaan terjadi seperti tangis,
mungkin kita yang angkuh,
tapi Asma-Nya yang selalu ada,
dan bukan pula gurauan,
disatu takdir,
sungguh yang terdalam,
sesungguhnya rahmat untuk kita,
telah tertitip di hulu pagi,
untuk segala yang terjadi,
dalam setiap Do'a yang berkata
si jingga yang bernyanyi pun menuntun lalu kesedihan kita.
















