Dinginnya mulut yang terkunci,
Beradunya hari yang termurung,
bukan alasan disaat kita menyatu,
meski terjatuh.
tapi yang terbaru,
dan yang terlama yang pasti mengerti,
setiap detik arti yang berbeda,
menyampaikan rasa yang bersatu.
tapi,
mungkin bukan untuk kisah kita,
dan bukan pula santapan Dewata.
semakin peka,
kita semakin manis,
selain hari,
tak ada yang berasa,
ataupun melompat,
masih tetap berlasan manja.
begitulah kita,
bukan sehati yang berselimut,
hanya keadaan terampas,
dan berduri mati tak beralas.







