XDXD

Laman

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

JALAN BUNTU DI RAUT PAGI

Oleh : Dedi Fura

Di tengah riuh pilu sanggahan mata,
Sekejap berulang pandangan hati,
Seolah tiada beranjak pertarungan bahasa,
Tapi logatnya masih melaba rugi seusai waktu kita.

Sampai hati dia berucap,
Dan aku pun masih disini,
Termenung malu tiada terikat,
Dengan alam,
Dan dengan keinginan terdalam dari qalbu.

Mungkin berbeda dengan jiwa,
Jiwa tua,yang hampir rubuh
Terharap jiwa tertanam,
Kita bertemu di taman hati,
Juga di sekeliling ciuman pulau impian.

Setelah semua berawal dari manisnya tekad,
Kini,
Tak sekecil apapun bentangan harap,
diam tak tampak,
Namun dibalik putih yang menghantui,
Mungkin masih ada harapan lama yang enggan tertidur seperti batu.

HARAPAN KELAK


Oleh: Dedi Fura

Mereka yang berbicara,
Mereka yang hidup dari karaguan.
Tapi mereka yang terlahir sebagai insan baru,
Tak pernah tahu,
Dan tak mau tahu bagai sebatang teruntai serta termakan.

Kita tak sebodoh jati dia,
Kita manusia yang bertulang kecil,
Hanya hidup di saat bisu,
Yang hanya mati disaat mengukun tulisan di atas air.

Seperti itulah,
Dan beginilah.
Membimbing dia hinggap ke laut,
Yang jauh kedarat,
Juga kepedalaman.

Kini terlihat,
Sosok maut yang ramah,
Kini terbuka,
Tapi mungkin sekecil kebodohan,
Harapa itu tetap menjadi pantangan dalam keraguan,
Juga sebagai pujian dalam keramat seperti penyesalan.

Maka itu,
Itu terjual,
Buka karena uang,
Tapi berarti banyak jika menahan,
Juga berarti kecil jika terurai.


KARENA DIA

Oleh : Dedi Fura

Dia datang,
Kemudian aku melangkah,
Senjata tak bertulang masih jadi andalan hidup untuk sayangnya tercurah.
Dia hadir,
Kemudian berlari,
Seterusnya tak pernah berubah,
Memang inilah jalan terbaik dari-Nya,
Yang dengan penuh kesadaran,
Akhirnya tercipta pandangan yang terakhir.

Dia masih begitu,
Dan kini seakan terjadi lama di ujung harapan yang tak berbatu,
Mungkin,
Diamnya kita,
Seakan taak mengerti dengan langah dahulu yang dia tunjukkan.

Tak pernah terpikir,
Untuk menghindar dari masalah yang berujung tak hidup.
Mungkin,
Jika tak percaya,
Coba buka takdir lama yang telah dia perbuat,
Mungkin sebagai pengganti,
Jika dia menyesal nanti,
Turuti saja sifat baru dia,
Yang apabila hujan menyerangnya,
Dia akan lindungi tubuhnya,dengan kedua telapak tangan yang terbuka.
Mungkin baginya tak sia,
Seperti hatiku yang telah berpunya.

PANDANGAN LAIN


Oleh : Dedi Fura

Hanya sebatas roda yang ku kayuh,
Hanya sepatah pena yang terselip,
Di antara butiran hati,
Kita hidup bertahan semau jiwa.

Kelak hidup yang sebatang,
Membayangi kita seolah pandangan tidak berucap,
Tapi,
Maha melihat Tuhan dengan buah takdirnya
Akan tertanam melabihi batas rasa.

Kini,
Yang mati rasa biarlah serasa mati,
Karena jika tersenda,
Akan terhalang pintu kita seusai tidur,
Yang tanpa sempurna membaca batin dengan ucapan.

Maksud hati tetap menjelma
Disana tertuju bukti terakhir,
Seperti dosa kita rasakan,
Gunung melaju julang tertinggi,
Dari sekia harapan yang memapah kesadaran.


PERANGAI LAMA

Oleh : Dedi Fura

Kala bertahan,
Seperti hidup tak berpayung,
Kita coba banding sejak kapan masa lalu berteman kini,
Tapi suatu saat hanya akan menahan sesak kelak belajar.

Rumpun terseberang yang hampir merindang itu,
Seakan membulat kian searti.
Pandangan tertahan dipuncak batin,
Sepantasnya batin yang tersisih mulai membukit.

Boleh bertuah seakan manja,
Tapi seperjuangan takkan tahu mengapa tiada terkuak jika terlatih,
Itulah sisi akibat dari akibat,
Tiada yang tahu akan terucap,
Dan terucap hanya sebagai bukti dari panutan hati.

Tiba kembali ke pematangan,
Disana tercurah sepi yang meraung,
Setiap lambai pohon mengukir senyum
Senyum untuk seorang terlarang yang mengucap palsu.
Juga,
Jika melambat hanya sesepi pagi,
Tapi tiada terkalah jika madu mulai meracun.
Sangat disayangkan jika mereka
Bertahan hidup seperti tak bertuan.

SERAUT PUTIH TAK BERTUAN


Oleh : Dedi Fura

Bahasanya terlambat separuh baya.
Disaat disapa sejenak, mulanya bertabur perhatian,
Semalam,
Mungkin sekedar harapan bisu saja
Tapi jalannya tetap terukur rapi mendadak.

Batas itu menjadi utama dalam keadaan,
Sehingga api yang menyulut pun tak urung jua belai hiasan terasing di pundaknya
Hanya saja sebagian yang terluka bicara dengan pastinya
Tiada meragu dikala sempat.

Besarnya harapan kita tertanam dalam, sebuku hati.
Lincah menari kemudian berlaari
Hingga menangis di kecupan warna
Tapi masih saja dia tertawa.

Bagian hitam yang terlubangi menduri kuat
Tak terbayang ketibang alasan
Dari kebiasaan lama yang beradab,
Hingga sejauh hati terkuak, kini bertahan tanpa ada kuasa yang terlihat.
Bukan pula separuh baya hilang,
Tapi sebagai puntangan  disaat kita tertegun.

NUANSA PEMALAS

Oleh :Dedi Fura

Terlalu dini untuk mengukir waktu
Hanya sesaat berlari terdiam lama.
Kisah hidup seorang awam berakhir setengah hati dalam masa yang pilu.

Setelah semua terdampar,
Lelucon lama tak lagi melabuh ketepi hari,
Disaat kita terdiam dalam bentangan masa
Waktu pun seolah menjawab pertanyaan detik.

Dari sekian si jingga yang tertatih melambat laun,
Kini yang terpenting hanyalah bualan
Kadang terdiam selalu terdiam
Tak habis lamanya,
Waktu terlalu muda dalam sejarah.

Dibatas waktu yang menyatu,
Sosok hidup seperti bayangan senantiasa terbuka lebar
Ternyataa yang terakhir hanylah sisa
Mungkin itu hanyasekedar sisa yang membatin,
Sisa awal daa terakhir dari kebiasaan.