Oleh : Dedi Fura
Dia datang,
Kemudian aku melangkah,
Senjata tak bertulang masih jadi andalan hidup untuk sayangnya tercurah.
Dia hadir,
Kemudian berlari,
Seterusnya tak pernah berubah,
Memang inilah jalan terbaik dari-Nya,
Yang dengan penuh kesadaran,
Akhirnya tercipta pandangan yang terakhir.
Dia masih begitu,
Dan kini seakan terjadi lama di ujung harapan yang tak berbatu,
Mungkin,
Diamnya kita,
Seakan taak mengerti dengan langah dahulu yang dia tunjukkan.
Tak pernah terpikir,
Untuk menghindar dari masalah yang berujung tak hidup.
Mungkin,
Jika tak percaya,
Coba buka takdir lama yang telah dia perbuat,
Mungkin sebagai pengganti,
Jika dia menyesal nanti,
Turuti saja sifat baru dia,
Yang apabila hujan menyerangnya,
Dia akan lindungi tubuhnya,dengan kedua telapak tangan yang terbuka.
Mungkin baginya tak sia,
Seperti hatiku yang telah berpunya.







