Oleh : Dedi Fura
Hanya sebatas roda yang ku kayuh,
Hanya sepatah pena yang terselip,
Di antara butiran hati,
Kita hidup bertahan semau jiwa.
Kelak hidup yang sebatang,
Membayangi kita seolah pandangan tidak berucap,
Tapi,
Maha melihat Tuhan dengan buah takdirnya
Akan tertanam melabihi batas rasa.
Kini,
Yang mati rasa biarlah serasa mati,
Karena jika tersenda,
Akan terhalang pintu kita seusai tidur,
Yang tanpa sempurna membaca batin dengan ucapan.
Maksud hati tetap menjelma
Disana tertuju bukti terakhir,
Seperti dosa kita rasakan,
Gunung melaju julang tertinggi,
Dari sekia harapan yang memapah kesadaran.






