Oleh : Dedi Fura
Bahasanya terlambat separuh baya.
Disaat disapa sejenak, mulanya bertabur perhatian,
Semalam,
Mungkin sekedar harapan bisu saja
Tapi jalannya tetap terukur rapi mendadak.
Batas itu menjadi utama dalam keadaan,
Sehingga api yang menyulut pun tak urung jua belai hiasan terasing di pundaknya
Hanya saja sebagian yang terluka bicara dengan pastinya
Tiada meragu dikala sempat.
Besarnya harapan kita tertanam dalam, sebuku hati.
Lincah menari kemudian berlaari
Hingga menangis di kecupan warna
Tapi masih saja dia tertawa.
Bagian hitam yang terlubangi menduri kuat
Tak terbayang ketibang alasan
Dari kebiasaan lama yang beradab,
Hingga sejauh hati terkuak, kini bertahan tanpa ada kuasa yang terlihat.
Bukan pula separuh baya hilang,
Tapi sebagai puntangan disaat kita tertegun.






