yang telah lamaa berlalu,
yang kini hidup di lautan yang tak tahu,
tak seadil sang Pencifta,
dan memang takkan.
tak setentram dusun yang merimbun dengan damai,
takkan jua seperti yaang telah kalah bersarang.
semua yang terbaik dan terakhir,
akan tenang meski pergi,
dan akan terjadiketika pelangimembias di muka pagi,
sebab, dengan tentram damai menemaninya,
sebab dengan kecepatan perasaannya dia meluka.
hingga kita melompat pagar hidup,
dan merana di bukit hati bernuansa fajar.




















