XDXD

Laman

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

YANG TERAKHIR












 

Oleh : Dedi Fura

yang telah lamaa berlalu,
yang kini hidup di lautan yang tak tahu,
tak seadil sang Pencifta,
dan memang takkan.

tak setentram dusun yang merimbun dengan damai,
takkan jua seperti yaang telah kalah bersarang.
semua yang terbaik dan terakhir,
akan tenang meski pergi,

dan akan terjadiketika pelangimembias di muka pagi,
sebab, dengan tentram damai menemaninya,
sebab dengan kecepatan perasaannya dia meluka.
hingga kita melompat pagar hidup,
dan merana di bukit hati bernuansa fajar.

KARENA KITA














Oleh :Dedi Fura

meski tak sama,
tapi tetap sehati,
tetaap tejaga dan tetap tak bertulang.

jikananti kita tak hidup,
sadarkan semua sangkaan fana di ujung gelisah,
jika memaang jalan haruis membaik, semoga kita yakin dan tahu kapan kita terbuka lagi.


kita yang tahu,
kita yang hidup,
tak searti pun kita jalani dengan ketenangan,
tak selangkahpun kita bertahan sama sesama.
sempurna jika kita terlaraang sempurna jika kita mendua,
tapi mendua di dua antara,
keraguaan dan ketenangan.

MENYERAH UNTUK HIDUP


















Oleh : Dedi Fura

Diamlah disana, seakan tak tahu kenapa kita membisu,
tak ada alasan jelas untuk kita berlabuh,
dan tak ada alasan yang tepat untuk kita terjatuh,

semoga setelahsekian waktu,
kau mengerti bahwa aku kan teramat,
bahwa aku kan menyatu,
dan bahwa harapan yang terlampiaskan dengan janji adalah milik kita.

aku tak sadar,
dan kau tak melihat,
aku terinjak,
dan kaupun melemah,

kuharap,
dengan harapan tak jelas,
kurajut,
sehelaikain yang terurai,
kubuka dengan segenggam hati tak jenuh dan tak jarang.

datanglah meski ditekan ombak,
tapi samudra akan membaik,jika kita tetap tahu,
arah mana yaang tak baik,
dan arah mana yang baik,
sebab,
ingatlah ketika tenggelam nanti kita harus tahu,
aku selalu menanti keraguanmu.

KEABADIAN DI UJUNG HARAPAN






















Oleh : Dedi Fura

melangkah menuju utara,
setibanya sejenak,
datang pula kita diseberang selatan.

kita tak pernah tahu,
dulu yang masih terbenam,
adalah sekian dari banyaknya santunan untuk kita,

maka,ketika benar-benar tak ada kau akan berhenti di pedalaman
dan kau,
tersesat hingga tak ada lagi.

akan lebih tahu,
jika suatu haru dan tertawa,
selamanya akan tersenyum,
dan sekurangnya kau akan terluka,
saat itu,
jauhilah aku kerena,
jika setetes harapannya saja kau menjadi sia,
dia akan terbang dengan rasa yang hilang.

YANG TAK PERNAH TERBUKA


















Oleh : Dedi Fura

kini,
kau menyesal.
setelah berlalu-lalang,
dan setelah aku menduakan alam,
dan setelah aku mencium bumi,
kau tak pernah ada untuk berteman.

sekarang,
setelah kita mulai terjatuh,
kau benar-benar berbuat sesuka alasan.

andaipun kau teramat kuaat,
tapi tetap aaku selemah sungai yang terputus,
akankah aku tenggelam,
kau pun hendak berenang,
aku tahu,
dan aku mengerti,
tapi,
aku adalah dia,
yang bukan tertuang dalam tulisan pena,
dan bukan pula tertuang dalam tulisan raut,
setidaknya meski pandangan lain,
disana kaau masih menantiku menyapa senja.

JENDELA HATI



















Oleh : Dedi Fura

Mulai terbuka,
dengan sebagian jati yang tersisa,
tersendu,
seakan tak ada yang hidup.

mulai terlepas,
dari penantian lama yang berlawanan.
daan mulai terlekang oleh segala kemantapan
dalam doa'anya.

Tuhan selalu ada,

itulah seiring tujuan sang adam jika terluka,
mungkin gagu ketika nemenetes,
seraut putih,selalu tersandar,
dengan penuh pengertian kita terasing,
ketepian, dan kejauhan.

tak seperti yang lama yang telah berlalu,
kadang terasa dalam pendangan,
kadang pula terasa dalam masa yang sulit,bagi sebagian kita,
tapi itulah hidup,
tah tahu batasan yang klasik,
meski tak sebagus sekarang,
sebab,
dengan menyandarkan bahwa,
kita mulai terganti,
sebab,
dengan melambaikan harapan jauh,
kita dapat tertawa.

LIDAH TAK BERTULANG


















Oleh : Dedi Fura

untuk yang terluka dulu.

selalu begitu,
dengan logat manis,
dia berthan,
dengan wajah beku dia terpaksa.
dengan sejumlah keraguan ajhirnya melangkah,

Harapan palsu,
ditengah abad silam memang seperti membudaya.
tapi kadang terungkap setiap perkataan pada ujungnya.
tak ada perhiasan berharga,
hanya sekedar santapan logika,
dan segenggam keraguan,
namun masih tertatih diam ternanti qalbu.

kini,
batinnya terluka,
untuk sekian hari yang menaburi permintaan hatinya,
tak terpaksa,
tapi memang tak ada.
sebab, yang terukir,
jauh di sekitar bualan saja,
dia tampak menyesal berjalan sendiri,
namun siapayang mau berkata,
jika takdir Tuhan benar-benar terjadi.

HANYA GURUAN SAJA






















Oleh : dedi Fura

Disamping waktu yang terteduh penyesalan karena takdir,
tergelantung di tengah derunya bumi,
yang terdam dari sejumlah hati terdiam.
dan dari sisi yang biru terletak keagungan baru.
mudah kita terapung,

di halaman senja yang termakan.
dan dari sekian hari yang terasing,
hebatnya kau masih tertahan,
lama pula kita berteman sekia, mata mulai memandang
karena kita yang tahu,
siapa berdaya di pents alam.


itu tentang kita,
tentang dongeng yang terucap,
setibanya terbawa mati hingga hari memangsa diri,
dan hebatnya  tak lekang kuasa harapan,
sebab yang tahu hanya kita yang bertuan.

KUASA ALAM






















Oleh : Dedi Fura

tak pernah ada yang seperti itu,
seperti halnya tumbuh sebagai kamil yang berwibawa.
tapi adakalanya,
susah terbangun dari mimpi,
adalah kenyataan yang tertunda.

kamudian dari sekian bentuk hati,
yang menjerit hanyalah gurauan.
dibuka kemudian terungkap,
memang begini adanya kita.
dan mengkin bagi kita,
dia hanya seraut sisa lama yang mengan dung harap.

kataku memang bisu,
tapi tak seperti pembisu di muka baru,
sebab yang terjadi ketika bertahan,
yang tertanam di jiwa awam,hanyalah tasbih untuk alam yang terbenam.