Oleh : Dedi Fura
Tertekan batin serasa membaru.
Kisah klasik itu kini membuat pandangan kita seantik curahan hati
Ketika kita jumpai,
retap saja taman tak secerah gerimis terakhir yang merindukan alam senja
tiba pun dia menangis,
dibalik senyuman sore hanya petuah laama menjejaki siksa yang terluka.
tapi seandainya membeku dalam kematangan hidup,
esoknya pun pasti tertinggal kenangan yang mulai meruncing.
bukan sekedar bunyi nyaring,
hanya sebelah hati pandangannya yang tersisa
kadang menyaut dalam keunikan hati,
tapi juga wajah alam selalu beri hikmah terbaik yang mendahuluinya.
dulunya,
putih lembaran lama jadi luka yang mendalam,
tapi setidaknya bagaikan enggan ditepi pasir yang kemudian ombak jawaban hatinya
hingga abad pun berkata perlahan: "seandainya aku jadi melati, rasa ini takkan tediam seperti mentari".






