XDXD

Laman

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

BUKAN TIGA KATA

Kembali bertanya,
kapan aku bergerak??
dia tak lebih hebat dariku,
tapi aku terlalu lemah
dan bukan untuk kehidupanku,jika aku tersempit lagi,

setelah dekat terasa,
bulan menatap awan tak sempurna lagi,
tak ada yang berpadu,
tak ada pula yang berselimut

namun, 
yang tertuang adalah kemanisan hati 
dan keabadian yang telah berjanji,
sebab,
dengan jelas Tuhan telah berkata,
bahwa yang berjanji akan selalu menghindar,
bahwa yang menghindar lebih dari semua keadaan,
yang tak bisa kumiliki

BILANGAN BULAT












 sebuah kata hati,
tapi tak menggantikan keadaan
melipat di antara bituran gelap,
esoknya bertanya, 
tak ingin kujawab

terlalu dini untuk memulai kembali,
tak ingin seperti awal,
diamana dan terserah tak mau kalah,
walau terbilang sangat kaku,
luapan hati untuk yang terbaru begitu pulas.

dia, melihat,
kemudian mendekat,
terserah kau jika memeluku dengan dingin
tapi yang harus teringat,
tubuhku wangi dengan dosa kecil yang ku taruh untuk teman lamaku

mau berkata apa terserah,
kehidupan terlanjur memburu dengan nafas yang pendek,
meski besok lidahku tak bertuah lagi,
mungkin wanita pemujiku akan berkata dengan tenang:
"hari lebih disayanginya, terlampau manis yang tenang bersarang untuk kehidupannya"

YANG MELUAP KEMBALI

Yang berjalan tak seindah lagi,
tak ada selama, tak ada yang bergerak
yang terbaik,
terlalu mengimbangi kemudian tak ingin berjalan

tak ingin berbohong rasanya,
tak begitu pula meski terasa membual,
kubuat sentuhan sedikit,
setibanya kulihat pulang tak ada,
itulah umpamanya sekian panari yang menyentuh hati

ha ha ha ha
begitu ceroboh,
hingga yang telah terjadi meski terapi kembali
meski sadar ini tak sebaik masa di tepi pagi,
titipan Illahi masih tetap harum untuk yang terbaik

BASA-BASI HATI

Oleh : Dedi Fura

mungkin bukan dia seperti intan,
akupun begitu,
tak berdaya,
dan fikiran masih tak menyatu.

Hanya kau yang tak ada,
lembayung yang indah,
bukan wajahmu lagi bersarang.

bukan pula kenangan yang membenak
bukan pula jauhnya hari dengan kepastian,

kita yang memanja,
yang tak pernah tahu kapan keadaan terjadi seperti tangis,
mungkin kita yang angkuh,
tapi Asma-Nya yang selalu ada,

dan bukan pula gurauan,
disatu takdir,
sungguh yang terdalam,

sesungguhnya rahmat untuk kita,
telah tertitip di hulu pagi,
untuk segala yang terjadi,
dalam setiap Do'a yang berkata
si jingga yang bernyanyi pun menuntun lalu kesedihan kita.

BUKAN UNTUK KITA

Oleh : Dedi Fura

Dinginnya mulut yang terkunci,
Beradunya hari yang termurung,
bukan alasan disaat kita menyatu,
meski terjatuh.

tapi yang terbaru,
dan yang terlama yang pasti mengerti,
setiap detik arti yang berbeda,
menyampaikan rasa yang bersatu.

tapi,
mungkin bukan untuk kisah kita,
dan bukan pula santapan Dewata.

semakin peka,
kita semakin manis,
selain hari,
tak ada yang berasa,
ataupun melompat,
masih tetap berlasan manja.

begitulah kita,
bukan sehati yang berselimut,
hanya keadaan terampas,
dan berduri mati tak beralas.

TAK SESUCI INI

Oleh : Dedi Fura


Mungkin,
bukan alasan yang sebenarnya,
ketika mentari terlelap,
bunga mimpi tak sekedar mati,

aku tak  sehedonis kemalangan,
taak separuh kebodohan,
hanya saja,
separuh dari iman yang terdampar,
hanya harapan buruk yang menanti malam.

telah berulang,
dan mungkin hampir habis,
telah terjadi,
namun masih bersama,

selama tertekan jiwa yang melapang,
selama tertutup awan yang menipis,
takkan lama terasa,
mungkin saat ku tak ada,

hanya sekedar surat kecil yang ku titipkan untukmu disuara kicau angin,
saat itu,
aku bukan hal baru lagi,
semoga dengan tak ada lagi,
diamnya mulut hari,
takkan gantikan sesalku yang hampir terdiam

BAWAAN SELAMANYA















 
Oleh : Dedi Fura

Memang begitu,
Jika sudah acuh,
Mungkin diam tak mau tahu.
ketika mulai membisu,
orang lebih suka menatap manis,
masih saja membeku.

Kapan tateringat kenangan batin,
Tak semudah harapan hati,
Da tak sebening embun ketika terlahir.
Namun hanya sekedar bualan lama,
yang hitam disaat memutih
dan tergenang disaat terhanyut.


Inilah sebab kau pergi,
tak tahu,
dan tak mau tahu,
yang terasing saat ini,
tapi wajahmu tak bisa menoleh.
tapi kakimu tak bisa melangkah pula.
Ku tahu sebab lama itu,
dan aku tak tahu kapan Malaikat tak  bersayap lagi,
janganlah diam,
dan jangan terapung,

sebab,
hidup yang lain,
telah menanti diriku.